Pneumonia dominasi kasus rawat inap jemaah haji Indonesia

Ringkasan AI
Dokter Keluarga Kimia Farma Group, dr. Meidi Nursasih, mengatakan bahwa pneumonia merupakan kasus penyakit terbanyak…
Jakarta (ANTARA) - Dokter Keluarga Kimia Farma Group, dr. Meidi Nursasih, mengatakan bahwa pneumonia merupakan kasus penyakit terbanyak yang memicu rawat inap sekaligus menjadi penyebab kematian tertinggi bagi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
"Berdasarkan data Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Arab Saudi, dari hampir 400 jemaah yang masuk rumah sakit KKHI, kasus terbesar yang tercatat adalah pneumonia, dengan angka kematian mencapai 370-an orang," kata Meidi dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis.
Meidi menjelaskan, tingginya kerentanan jemaah haji terhadap pneumonia dipicu oleh masa tunggu keberangkatan yang sangat panjang di Tanah Air, seperti di Jawa Barat yang mencapai 16 tahun dan Makassar hingga 24 tahun.
Panjangnya masa tunggu tersebut menyebabkan mayoritas jemaah yang diberangkatkan telah berusia lanjut (lansia) serta memiliki berbagai penyakit penyerta (komorbid), seperti diabetes melitus, hipertensi, dan riwayat penyakit paru.
Selain faktor usia dan komorbid, Meidi menyoroti faktor kelelahan fisik, perbedaan waktu (jetlag), serta perbedaan iklim yang ekstrem antara Indonesia dan Arab Saudi.
"Banyak orang hanya fokus pada suhu panas, padahal faktor yang paling krusial adalah kelembapan udara. Kelembapan di Arab Saudi sangat rendah dan kering, bisa mencapai sembilan persen, sangat jauh dibanding Indonesia yang sekitar 50 persen. Udara kering ini memudahkan iritasi dan infeksi pernapasan," jelasnya.
Untuk menekan risiko morbiditas dan mortalitas, Meidi mengingatkan pentingnya rangkaian pemeriksaan kesehatan berjenjang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang dimulai sejak enam bulan sebelum keberangkatan, mulai dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan, hingga di asrama haji.
Pemeriksaan awal di Puskesmas dinilai sangat vital untuk menentukan status istithaah atau kelayakan kesehatan jemaah secara saksama, sehingga intervensi medis dapat dilakukan sedini mungkin.
Senada dengan hal itu, dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Subsp.PTI (K), FINASIM, menekankan bahwa calon jemaah haji maupun umrah sebaiknya telah menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh, rontgen paru, dan tes laboratorium minimal dua hingga tiga bulan sebelum berangkat.
Mengingat ibadah di Tanah Suci melibatkan jutaan orang dalam ruang yang padat dan penularan infeksi terjadi melalui udara (airborne), proteksi paru tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan saat sudah tiba di Arab Saudi.
"Perlindungan paru harus dilakukan secara kolektif dan holistik. Jemaah harus mengontrol komorbidnya, disiplin memakai masker di kerumunan, rutin mencuci tangan, serta melengkapi vaksinasi dewasa yang dianjurkan, seperti vaksin influenza dan pneumokokus sebelum berangkat," ujar Joyce.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Baca di ANTARA News