Benarkah chatbot AI butuh banyak air? ini faktanya

Ringkasan AI
Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meningkat untuk berbagai…
Jakarta (ANTARA) - Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meningkat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, membuat tulisan hingga membantu pekerjaan. Di balik layanan tersebut, terdapat infrastruktur pusat data yang membutuhkan listrik dan sistem pendingin agar komputer dapat beroperasi.
Salah satu sumber daya yang ikut digunakan dalam proses tersebut adalah air. Namun, anggapan bahwa setiap pertanyaan yang dikirim ke chatbot secara langsung menghabiskan sejumlah besar air perlu dilihat secara lebih hati-hati karena penggunaan air berbeda-beda bergantung pada model AI, pusat data, sistem pendingin, lokasi dan sumber listrik yang digunakan.
Lantas, mengapa chatbot AI membutuhkan air? Ini penjelasannya.
Chatbot AI dijalankan menggunakan server dengan komponen komputasi berdaya tinggi. Ketika server bekerja, perangkat tersebut menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendingin agar tetap beroperasi pada suhu yang sesuai.
Sebagian pusat data menggunakan air dalam sistem pendinginnya. Air dapat membantu menyerap dan membuang panas dari fasilitas pusat data. Karena itu, semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula tantangan dalam mengelola panas dan penggunaan sumber daya untuk pendinginan.
Namun, tidak semua pusat data menggunakan jumlah air yang sama. Teknologi pendingin, kondisi iklim, desain fasilitas dan kebijakan pengelolaan air dapat memengaruhi kebutuhan air masing-masing pusat data.
Penggunaan air dalam ekosistem AI tidak hanya berasal dari pendinginan server ketika chatbot menerima pertanyaan.
Air juga dapat digunakan secara tidak langsung dalam proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan konsumsi air pusat data global mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 373 miliar liter berkaitan dengan penggunaan air secara tidak langsung untuk pembangkitan listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter merupakan penggunaan langsung di pusat data.
Angka tersebut merupakan estimasi untuk seluruh pusat data, bukan konsumsi khusus chatbot tertentu. Karena itu, angka konsumsi air tidak dapat begitu saja diterapkan untuk setiap pertanyaan AI.
Salah satu alasan munculnya berbagai angka mengenai penggunaan air AI adalah perbedaan metode penghitungan. Konsumsi air dapat dihitung hanya dari proses komputasi atau sekaligus memperhitungkan sistem pendingin dan sumber listrik yang digunakan.
Google, misalnya, pada 2025 mengukur konsumsi sumber daya untuk layanan Gemini. Perusahaan tersebut memperkirakan satu prompt teks median Gemini Apps menggunakan sekitar 0,26 mililiter air berdasarkan data Mei 2025 dan metodologi yang mencakup penggunaan energi sistem serta konsumsi air pusat data. Google menegaskan bahwa angka tersebut merupakan pengukuran pada titik waktu tertentu dan bukan angka yang berlaku untuk seluruh layanan AI.
Artinya, tidak tepat menyebut setiap pertanyaan chatbot pasti menggunakan jumlah air yang sama.
Meski konsumsi per permintaan dapat menjadi semakin efisien, jumlah penggunaan AI secara global terus bertambah. International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global meningkat 17 persen pada 2025. Sementara itu, konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI meningkat sekitar 50 persen pada tahun yang sama.
IEA juga memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara keseluruhan dapat meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa efisien satu pertanyaan diproses, tetapi juga oleh jumlah pengguna, jenis pekerjaan yang dilakukan AI dan pertumbuhan infrastruktur pusat data.
Perusahaan teknologi juga mengembangkan teknologi untuk mengurangi kebutuhan air pusat data. Microsoft, misalnya, melaporkan rata-rata water usage effectiveness (WUE) pusat data miliknya turun dari 2,3 liter per kilowatt-jam menjadi 0,27 liter per kilowatt-jam pada 2025. Perusahaan tersebut menyebut efisiensi tersebut didukung oleh teknologi pendinginan dan berbagai peningkatan operasional.
Google juga melaporkan berbagai upaya pengurangan penggunaan air. Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek pengelolaan airnya pada 2025 telah melakukan pengisian kembali sekitar 7,7 miliar galon air, setara sekitar 78 persen dari konsumsi air tawarnya pada tahun tersebut.
Chatbot AI memang memiliki jejak penggunaan air karena layanan tersebut bergantung pada pusat data yang membutuhkan pendinginan dan listrik. Namun, besarnya konsumsi air tidak dapat disamaratakan untuk setiap chatbot atau setiap pertanyaan.
Jumlahnya dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jenis model AI, kompleksitas tugas, efisiensi perangkat keras, sistem pendingin, lokasi pusat data dan sumber listrik yang digunakan.
Karena itu, pembahasan mengenai dampak lingkungan AI perlu melihat data dan metode pengukurannya secara menyeluruh. Di satu sisi, teknologi AI terus menjadi lebih efisien. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah pengguna dan pembangunan pusat data dalam skala besar membuat kebutuhan energi dan pengelolaan air tetap menjadi perhatian.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Baca di ANTARA News